Minggu, 13 April 2008

TravelHemat Kuala Lumpur - Singapura - Bangkok Sudah Terbit

Hi Teman...

E-Book TravelHemat serial Kuala Lumpur - Singapura - Bangkok sudah terbit. Dalam e-book ini saya akan memandu Anda untuk merencanakan dan melakukan TravelHemat ke 3 negara sekaligus mengunjungi 3 kota yakni Kuala Lumpur di Malaysia, Singapura dan Bangkok (Thailand).

Di e-book ini saya mengulas lengkap apa saja yang bisa Anda lakukan untuk menghemat biaya perjalanan ke 3 negara tetangga ini. Anda juga bisa mendapatkan berbagai link ke situs-situs pesawat berbasis low-fare yang melayani jalur ke 3 negara tadi, juga rekomendasi penginapan murah meriah, plus berbagai tips praktis untuk menghemat biaya makan selama di luar negeri.

Anda juga bisa mengakses berbagai situs yang berhubungan dengan transportasi lokal di tempat tujuan, sehingga bisa memperkirakan berapa biaya yang Anda perlu siapkan untuk hal ini. Demikian juga dengan peta rute transportasi umum di KL, Singapura dan Bangkok; transportasi dari/ke airport, dan lain-lain.

Dalam e-book ini pula saya akan memandu Anda bagaimana menghitung budget perjalanan, bagaimana menghitung nilai tukar valuta asing dan lain-lain.

Nah, dalam rangka masa promosi, hingga bulan Juni 2008, harga e-book TravelHemat Kuala Lumpur - Singapura - Bangkok ini dijual hanya dengan harga Rp 69.000,- saja. Jika Anda membelinya setelah bulan Juni... harganya udah akan kembali ke bandrol normal, yakni Rp 129.000,-

So... buruan beli TravelHemat Kuala Lumpur - Singapura - Bangkok sekarang juga. Anda akan bisa menghemat biaya perjalanan hingga JUTAAN Rupiah!

Klik di sini untuk melanjutkan...

Salam,
Agung Basuki

Sabtu, 12 April 2008

GRATIS E-BOOK 'MY JOURNEY (1)... BURUAN!!

KABAR GEMBIRA!

Untuk teman-teman yang mengisi form berlangganan newsletter gratis TravelHemat (form-nya ada di kolom sebelah kanan) akan mendapatkan sebuah e-book gratis setebal 24 halaman yang berjudul My Journey (1). E-Book ini berisi artikel-artikel perjalanan wisata tulisan Agung Basuki beserta beberapa foto yang pernah dipublikasikan oleh berbagai media cetak terkemuka di tanah air. Jadi, jangan tunggu lagi... segera bergabung untuk mendapatkan berbagai tips & tricks bagaimana ber-TravelHemat secara nyaman dan aman.

Rabu, 09 April 2008

Tips: Ikutan Tur Lokal Saat di Luar Negeri

Ada kalanya saat melakukan travelhemat ke suatu daerah di luar negeri, kita dihadapkan pada kenyataan, bahwa ada tempat-tempat tertentu yang biayanya lebih mahal jika kita kunjungi sendiri alias tanpa ikutan dalam 'guided grup tur'.

Saya pernah mengalami hal ini saat berkunjung ke Dinant - sebuah kota kecil di wilayah Ardennes Belgia, yang dikenal memiliki komplek gua bawah tanah yang sangat indah di mana banyak terdapat stalagnit dan stalagtit di dalamnya. Gua yang usianya ribuan tahun ini tidak bisa kita kunjungi tanpa panduan seorang guide specialist yang sengaja dipekerjakan oleh pengelola tempat tersebut.

Lantaran saat itu saya datang ke sana seorang diri, sangat tidak mungkin buat saya untuk memasuki area yang konon sangat cantik itu tanpa pendampingan siapapun. Akhirnya, saya memutuskan untuk bergabung dalam guided walking tour bersama dengan belasan individual travelers lainnya mengunjungi 'De Grotte Marvellous' - nama gua yang terletak beberapa puluh meter dari permukaan tanah itu.

Saat itu, reservasi untuk ikutan dalam walking tour tersebut saya lakukan right on the spot. Saya harus membayar sekitar 20 Euro untuk tour berdurasi 90 menit tersebut. Dan memang hasilnya sangat tidak sia-sia sih. Gua peninggalan zaman purba itu masih tampak sangat terawat dan terjaga kondisinya. Banyak hal baru yang saya pelajari tentang bagaimana stalagnit dan stalagtit bertumbuh. Ternyata, membutuhkan 100 tahun untuk sebuah stalagnit/stalagtit untuk bertumbuh sepanjang 1 milimeter saja. WOW!! Lama banget ya...

Nah, satu hal yang baru saya ketahui di kemudian hari dalam hal pemesanan paket tur lokal di Dinant tersebut adalah, bahwa harga yang saya bayarkan saat itu (saat melakukan direct reservation di sana), jauh lebih mahal daripada jika saya melakukan reservasi melalui internet.

Jika melakukan reservasi untuk paket tur tersebut via internet, saya sebenarnya hanya cukup membayar 11.90 Euro saja! Hah, selisihnya cukup banyak ya...

Namun dengan pengalaman itulah, saya kemudian lebih sering memanfaatkan jasa reservasi via internet jika membutuhkan paket tur lokal saat berkunjung ke luar negeri. Nah untuk temen-temen, ngga usah kuatir deh... saya udah siapkan link yang bisa dikunjungi kok. Anda bisa melakukan pemesanan berbagai paket guided tur lokal di berbagai negara di dunia, di ratusan bahkan ribuan kota maupun tempat tujuan wisata. Situs ini pula yang belakangan ini sering saya pakai untuk mendapatkan berbagai info yang saya perlukan sebelum berkunjung ke suatu daerah, dan untuk mencari tahu kira-kira tempat mana saja yang pantas untuk dikunjungi. Klik di sini untuk melanjutkan.

Sampai di sini dulu ya...

Cari-Cari Hotel Murah di Seluruh Dunia?

Untuk mencari akomodasi murah namun nyaman, di tempat manapun di seluruh dunia, ada sebuah situs yang saya rekomendasikan untuk Anda. Harga yang ditawarkan pada konsumen bisa dibilang termurah dibandingkan situs online pemesanan hotel yang lain. Disamping itu, setiap kali melakukan pemesanan, kita diberikan Dollar Reward yang bisa memberi kita kesempatan menginap gratis di berbagai hotel yang kita inginkan. Silakan klik banner di bawah ini untuk tahu lebih lanjut.

Selasa, 08 April 2008

VOLUNTEERED TRAVEL - Traveling With A Difference

Oleh Agung Basuki
(tulisan ini pernah dimuat di majalah Female Indonesia)

Anda merasa bosan dengan rutinitas yang Anda jalani saat ini? Merasa jenuh sekaligus lelah karena seabreg pekerjaan yang membuat Anda merasa selalu dikejar-kejar sesuatu yang seakan tak pernah berakhir? You need a break!

Atau Anda termasuk diantara orang yang berkeinginan untuk bepergian ke luar negeri, tapi niat Anda tersebut senantiasa terganjal masalah biaya?

Jika itu yang Anda rasakan, kenapa tidak mencoba untuk bergabung sebagai tenaga relawan di berbagai negara melalui organisasi-organisasi sosial? Dijamin bakal memberikan ‘sensasi’ yang berbeda dan segudang pengalaman menarik sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih berkualitas di kemudian hari.
Adalah Aimee Maron, gadis 23 tahun asal Indiana - Amerika yang telah lama bercita-cita meraih gelar master di bidang hubungan internasional. Ketika berhasil meraih gelar S1-nya di bidang manajemen dari Indiana University setahun silam, bukannya menerima tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan periklanan di kota tempat tinggalnya, ia malah memilih untuk berangkat ke Ekuador, menjadi relawan untuk WorldTeach selama setahun. WordTeach adalah sebuah organisasi nirlaba yang membantu penempatan pengajar bahasa Inggris di berbagai tempat di dunia. Aimee mengajar bahasa Inggris pada sebuah universitas di Ekuador dan tinggal pada sebuah keluarga angkat (host-family).
“Pengalaman selama setahun hidup di Ekuador membuat tekad saya untuk menjalani karir di dunia internasional semakin kuat”, jelas Aimee. Disamping mengajar bahasa Inggris untuk mahasiswa setempat, Aimee juga berkesempatan belajar bahasa Spanyol melalui interaksinya dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Berbekal pengalaman sebagai pekerja sosial di Ekuador ditambah kemampuan berbahasa Spanyol yang maju pesat dibandingkan sebelum pergi ke Ekuador, membuatnya diterima pada sebuah universitas papan atas di Monterey – California untuk program hubungan internasional, menyisihkan sekian banyak pendaftar untuk program yang menjadi favorit banyak orang itu.
Pengalaman Silke Van Melle, seorang gadis berusia 27 tahun lulusan akademi perawat di Belgia, lain lagi. Sejak kecil dia bermimpi untuk bisa pergi ke Afrika, tetapi karena keterbatasan biaya, dia tidak pernah bisa mewujudkan mimpinya tersebut. Melalui situs http://www.i-to-i.com/ dia melihat kesempatan untuk bergabung dalam tim medis sukarelawan yang diorganisir oleh University of Antwerp di Belgia untuk sebuah program bantuan pada beberapa rumah sakit milik pemerintah Kamerun di Afrika Barat. Program sosial ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk berkunjung ke Afrika secara gratis (karena pemerintah setempat menanggung biaya penerbangan, biaya hidup sehari-hari plus sekedar uang saku), tetapi sekaligus memberikan pengalaman terindah dalam hidupnya.
“Saya memang pergi ke Kamerun sebagai seorang perawat, namun disamping itu saya memiliki ketertarikan yang dalam terhadap budaya dunia di luar lingkungan saya,” cerita Silke setelah menyelesaikan masa tugasnya selama dua tahun di Kamerun. “Saya berkesempatan menjalin persahabatan dengan beberapa penduduk lokal disamping juga dengan sesama relawan dari berbagai negara. Sampai sekarang persahabatan itu tetap terjalin dengan baik melalui komunikasi yang tak terputus. Hal ini menjadi pengalaman terindah dalam hidup saya.”
Berbekal pengalamannya itulah, baru-baru ini pihak i-to-i kembali menawarinya untuk ikut serta dalam program serupa di Honduras, Amerika Selatan melalui program bantuan yang disponsori oleh Bank Dunia.
Melakukan apa yang dikerjakan oleh Aimee ataupun Silke –menjadi tenaga relawan di berbagai negara di dunia, tampaknya mulai menjadi trend yang belakangan makin diminati oleh banyak orang di luar sana. Tak hanya kaum ‘pencari kerja’ atau para pensiunan saja yang berlomba-lomba memanfaatkan kesempatan ini, banyak kaum professional yang sudah sukses di bidangnya –yang ingin beristirahat sejenak dari kesibukannya yang padat—ikut berpartisipasi dalam program ini sambil mencari pengalaman baru, hidup dan berinteraksi dalam lingkungan asing di negeri orang, sekaligus berupaya meningkatkan nilai-nilai ‘intrinsik’ dalam kehidupannya.
Meski kesempatan untuk menjadi relawan terbuka luas, namun tak banyak orang Indonesia yang tahu keberadaan berbagai organisasi yang menaungi kegiatan mulia ini. Sehingga tidak heran jika dibandingkan negara lainnya, pekerja sosial asal Indonesia yang berkiprah di luar negeri terhitung sangat sedikit.
Organisasi-organisasi kemanusiaan seperti Amnesty International, UNESCO atau UNICEF seringkali membutuhkan bantuan yang lebih daripada sekedar bantuan berupa materiil (=uang). Mereka juga membutuhkan bantuan dalam bentuk nyata, yakni kesediaan masyarakat internasional untuk terjun langsung ke daerah-daerah yang membutuhkan penanganan. Kadang tidak dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa terlibat dalam kegiatan ini, namun apabila ada yang memiliki kemampuan tertentu, misalnya sebagai dokter, guru, ahli bahasa, pengajar ketrampilan dan sejenisnya—maka hal ini akan merupakan nilai tambah.
Banyak tempat di belahan dunia ini yang menjadi lahan pekerjaan bagi organisasi-organisasi sosial tersebut memang bukanlah daerah tujuan wisata populer. Organisasi-organisasi sosial tersebut seringkali bekerja pada tempat di mana terjadi bencana alam, kamp pengungsian, wilayah bekas peperangan atau konflik antar suku, wabah kelaparan dan daerah-daerah sejenis lainnya. Peran para pekerja sosial di tempat seperti ini menjadi sangat vital karena keterbatasan sumber daya manusia yang bisa menangani keadaan di tempat tersebut. Karena itu, jika ekspektasi Anda bergabung dalam kegiatan ini adalah untuk mencari tempat berlibur yang classy dan elegan, kayaknya Anda harus bersiap-siap untuk kecewa karena kenyataan yang bakal Anda dapatkan tidak sesuai dengan apa yang Anda bayangkan.
Karena sifatnya yang bukan merupakan organisasi yang berorientasi profit, sebagian dari organisasi-organisasi sosial kemanusiaan ini hidup berdasarkan sumbangan yang diberikan oleh masyarakat dunia. Apabila ada pekerja sosial yang ingin membaktikan diri untuk pekerjaan ini, kadang mereka diharuskan membiayai dirinya sendiri selama masa tinggalnya di sana, termasuk diantaranya membayar sendiri biaya tiket pesawat, biaya hidup dan biaya tempat tinggal.
Namun tak jarang, banyak pula organisasi yang bersedia memberikan fasilitas tiket pesawat pulang-pergi bagi siapapun yang berminat membaktikan dirinya, berikut fasilitas tempat tinggal, uang saku dan bahkan gaji.
Pada beberapa program tertentu, Anda bebas menentukan sendiri masa tinggal yang Anda inginkan. Jika kebetulan Anda hanya punya waktu satu bulan, maka Anda bisa memilih bergabung pada program yang berdurasi satu bulan saja. Namun jika Anda punya waktu yang lebih panjang, pilihan program yang bisa Anda ikuti dapat lebih bervariasi.
Jika Anda memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, bukan saja Anda bisa berkeliling ke berbagai tempat di dunia dengan ‘gratis’ sebagai pekerja sosial kemanusiaan dari satu organisasi sosial ke organisasi sosial yang lain (catatan: tergantung pada jenis organisasi yang memberikan sponsor), namun Anda juga berkesempatan melakukan interaksi (yang bisa berkembang menjadi persahabatan) baik dengan masyarakat setempat maupun dengan para pekerja sosial lain dari seluruh dunia yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Hal ini juga sekaligus berarti Anda berkesempatan untuk memperkaya khasanah pengetahuan lintas budaya, rasa sosial dan mengasah ketajaman empati akan sesama manusia yang nasibnya kurang beruntung. Jika selama ini Anda senantiasa disibukkan oleh rutinitas pekerjaan yang membuat stress dan merasa hidup Anda tidak bahagia, melalui program ini Anda bisa melakukan ‘recharging’ terhadap diri sendiri, sehingga saat kembali ke kehidupan semula, Anda bakal tampil menjadi sosok yang lebih tegar dan lebih ‘berkualitas’.
Salah satu organisasi yang banyak dijadikan pilihan adalah Global Volunteers, yang didirikan pada 1984. Saat ini, organisasi yang berpusat di Amerika Serikat ini memiliki area kerja di 19 negara di seluruh dunia dan setiap tahunnya memberangkatkan 2000 orang relawan multibangsa untuk berbagai program termasuk mengajar bahasa Inggris, pemeliharaan konservasi flora dan fauna, pengolahan limbah, sampai proyek pembangunan pemukiman di daerah tertinggal.
Organisasi lainnya semacam WorldTeach dan Visions in Action menawarkan program jangka pendek bagi para relawan yang hanya memiliki waktu singkat. Beberapa program yang mereka miliki tidak mensyaratkan keahlian khusus bagi peserta, namun ada pula yang membutuhkan komitmen tinggi disertai masa pelatihan dalam jangka waktu tertentu sebelum seorang relawan diterjunkan ke lapangan.
Jika Anda tertarik untuk ikut serta dalam program mengajar bahasa Inggris, disamping kemampuan bahasa Inggris yang memadai (beberapa diantara organisasi sosial yang ada mensyaratkan sertifikat TEFL –Teaching of English as Foreign Language—dan semacamnya), biasanya dibutuhkan kemampuan penguasaan bahasa masyarakat lokal (atau setidaknya memiliki kemampuan komunikasi dasar dalam bahasa setempat). Untuk memperoleh sertifikasi TEFL dan yang sejenis, saat ini sudah cukup mudah. Ada banyak lembaga pendidikan yang menawarkan program sertifikasi TEFL dengan durasi yang relatif singkat dan biaya cukup kompetitif. Beberapa diantaranya malah melakukannya via distance learning ataupun e-course via internet.
Nah, jika setelah membaca tulisan di atas, ada diantara Anda yang tergerak untuk berpartisipasi sebagai volunteered traveler dan ingin tahu bagaimana cara mewujudkan keinginan Anda tersebut, di bawah ini sengaja saya cantumkan beberapa situs yang berisi informasi yang Anda butuhkan. Segera kunjungi situs-situs tersebut. Travel the world and make your life becomes more meaningful.
Disamping itu, masih ada beberapa organisasi dunia lainnya yang bisa Anda jadikan referensi:
o http://www.volunteerabroad.com/, berisi informasi berbagai program relawan plus berbagai sharing pengalaman dari mereka yang pernah ikut serta dalam program ini.
o http://www.globalvolunteers.org/, direktori program relawan plus informasi bekerja dan magang di luar negeri.
o http://www.worldteach.org/, didirikan pada 1984, berbasis di Amerika, namun memiliki area kerja di 19 negara termasuk Peru, Ghana, Ukraina dan Australia. Program yang ditawarkan rata-rata membutuhkan biaya US$ 1000/minggunya untuk program yang berdurasi dua hingga tiga minggu.
o http://www.backdoorjobs.com/, menempatkan pengajar sukarelawan di Namibia, Costa Rica dan Kepulauan Marshall, untuk durasi mulai dari 2 – 12 bulan dengan biaya US$ 4000 untuk program 12 bulan.
o http://www.vfp.org/, --volunteer for peace. Menempatkan para relawan di kamp perdamaian di seluruh dunia. www.cdc.gov/travel Centers for Disease Control Traveler's Health. Berisi informasi tentang program imunisasi yang dibutuhkan untuk pergi ke daerah tertentu termasuk informasi tentang wabah penyakit di berbagai tempat di seluruh dunia. Sebuah situs yang ditujukan untuk warga Amerika yang hendak bepergian ke luar negeri, namun tidak ada salahnya jika kita manfaatkan juga.
Jangan lupa, sempatkan mampir di situs www.TravelHemat.com

Talk Show TravelHemat di Radio

Setiap hari Senin malam jam 20.00 - 21.00 di awal bulan, saya selalu memiliki jadwal tetap untuk mengisi acara talk show tentang Dialog Wisata pada sebuah radio swasta di Surabaya. Bukan untuk mempromosikan www.travelhemat.com sih, tetapi lebih kepada pengarahan dan pengedukasian mindset pendengar radio tersebut untuk berani merencanakan dan melakukan perjalanan ke luar negeri secara mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan agen perjalanan.

Di setiap edisi acara tersebut biasanya kami (saya dan penyiar) membahas tentang berbagai tempat tujuan wisata mancanegara yang pernah saya kunjungi. Dimulai sejak hampir dua tahun lalu, animo pemirsa terlihat semakin meningkat dan proses edukasi tersebut, meski belum bisa dibilang menunjukkan hasil yang nyata, namun telah sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan positif-nya.

Jadi kalau teman-teman ada waktu, nggak ada salahnya kalo sesekali tune-in di Radio Sangkakala (salurannya saya lupa, ntar saya tanyakan dulu ke penyiarnya....) setiap Senin malam di awal bulan jam 20.00 - 21.00.

Saya tunggu ya...

Sabtu, 05 April 2008

TravelHemat Macau - Hong Kong - Shenzhen

Tanggal 17 - 24 Mei 2008 nanti, saya bersama anak dan istri berencana untuk melakukan riset langsung untuk pembuatan e-book ke-3 dari serial TravelHemat. Kali ini kami akan melakukan perjalanan hemat mengunjungi 3 kota Asia yang rencananya akan kami laporkan dan terbitkan dalam sebuah e-book panduan merencanakan perjalanan hemat yang berjudul TravelHemat: Macau - Hong Kong - Shenzhen.

Selama perjalanan, kami akan berusaha untuk mengupdate postingan yang ada di halaman TravelHemat Blog ini, agar Anda tahu kesulitan apa yang kami hadapi selama 8 hari perjalanan tersebut, atau info menarik apa yang bisa Anda peroleh dari kunjungan langsung ke 3 kota utama di Republik Rakyat Tiongkok tersebut.

Saat ini kami tengah mempersiapkan segala kebutuhan untuk perjalanan tersebut. Mulai dari pencarian tiket pesawat murah meriah, akomodasi, maupun berbagai hal lain yang berhubungan dengan Traveling cara Hemat.

Jika tidak ada aral melintang, kami akan usahakan agar e-book TravelHemat: Macau - Hong Kong - Shenzhen sudah beredar di pasaran pada bulan Juni 2008. Karena itu sering-sering aja untuk singgah ke http://www.travelhemat.blogspot.com/ dan juga situs resmi kami di http://www.travelhemat.com/

O, ya... sebelum lupa, kalau Anda berencana juga hendak ke Macau - Hong Kong - Shenzhen dan ingin memesan akomodasi nyaman namun murah, silakan melakukan pencarian dan pemesanan dengan meng-klik banner di bawah ini. Banyak tawaran menarik di sini!

Jumat, 04 April 2008

MALAIKAT PELINDUNG

By: Agung Basuki

Seorang bayi berusia 6 bulan ditemukan selamat diantara dedaunan sebuah pohon kelapa di tepi pantai di Banda Aceh pasca bencana tsunami yang menimpa hampir sebagian besar wilayah provinsi Nangroe Aceh Darussalam bulan Desember 2004 yang lalu. Begitu berita yang saya baca dari sebuah surat kabar. Banyak orang bilang, bayi itu dilindungi oleh ‘malaikat pelindung’nya. Hal itu terjadi karena menurut kepercayaan banyak orang, bayi adalah makhluk suci yang terlahir tanpa dosa. Dan konon, malaikat pelindung senantiasa menyertai seseorang sampai orang tersebut melakukan dosa pertamanya.

Namun, bagi sebagian orang lainnya, keberadaan malaikat pelindung hanyalah sebuah dongeng belaka yang berasal dari mitologi kuno yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Sebagai manusia yang hidup di zaman serba moderen, kebanyakan dari kita tidak percaya akan keberadaan malaikat pelindung. Tetapi buat saya, I do believe in the existence of Guardian Angel.

Saya pernah mengalami beberapa hal dalam kehidupan saya, di mana saya diselamatkan oleh ‘malaikat pelindung’. Saya ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika beberapa teman mengajak saya untuk ikut serta dalam perjalanan menuju Gunung Bromo mengendarai dua jeep four wheels drive. Serta merta saya setujui ajakan mereka, hingga tiba pada hari keberangkatan, secara mendadak saya terserang diare hebat. Akibatnya, saya harus mengurungkan rencana keikut-sertaan saya. Jujur, saya kecewa banget dan sepanjang hari saya jadi uring-uringan dan bertanya-tanya terus dalam hati, mengapa saya harus kena diare di waktu yang salah?

Jawaban atas pertanyaan saya itu tiba keesokan harinya saat salah satu orang tua teman yang ikutan dalam perjalanan ke Bromo mengabarkan telah terjadi kecelakaan menimpa rombongan teman-teman saya di daerah Penanjakan, yang letaknya tak jauh dari Bromo. Salah satu dari dua jeep yang ditumpangi mereka, jatuh ke dalam jurang berkedalaman lebih dari 300 meter. Tiga dari lima penumpang dalam jeep nahas itu terluka parah, sementara dua lainnya…. meninggal dunia.

Sungguh saya sangat terkejut mendengar berita itu. Bagaimana jika saya tidak terkena diare waktu itu? Kejadian macam apa yang bakal saya alami jika saya jadi ikutan dalam rombongan itu?

‘Keajaiban’ yang lain adalah ketika saya yang memang suka berpetualang seorang diri, sedang menunggu kedatangan kereta api di sebuah stasiun kecil dekat Maastrich – Belanda dalam perjalanan menuju Warsawa – Polandia. Waktu itu hari sudah hampir tengah malam dan kondisi stasiun sudah sangat sepi. Saya mendengar pengumuman bahwa kereta yang bakal saya tumpangi akan datang terlambat kira-kira 1 jam dari jadwal semula. Karena telepon genggam saya habis baterenya, maka saya bermaksud menggunakan sarana telepon umum yang terletak di luar stasiun untuk memberi kabar pada teman yang bakal menjemput saya di stasiun Warsawa untuk tidak usah bangun terlalu pagi, lantaran saya bakal datang terlambat.

Ketika saya baru saja mengakhiri pembicaraan dengan teman saya di telepon, saya merasakan ada yang meraba bahu saya dari belakang. Sesosok pria bertubuh tinggi besar yang tampaknya sedang mabuk berat berdiri di belakang saya sambil menggumamkan kata-kata yang tidak saya mengerti. Seketika saya sadar bahwa saya berada dalam bahaya. Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tangan pria mabuk itu, saya berusaha melarikan diri ke dalam stasiun.

Namun, pria mabuk tersebut tidak mau melepaskan saya begitu saja. Ia mengejar saya. Saya semakin panik ketika menyadari bahwa di dalam stasiun sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Teriakan saya meminta tolong tidak mendapat respon apapun. Jika saya harus berkelahi melawan si pemabuk, saya nggak yakin bakalan menang, karena ukuran tubuhnya nyaris dua kali ukuran tubuh saya.

Sebagai orang yang tengah mabuk, pria itu berlari cukup cepat. Tangannya yang panjang berhasil menarik tas ransel saya dari belakang sehingga langkah saya terhenti. Dia mencekal leher saya dan menghempaskan tubuh kurus saya pada sebuah tembok sambil terus berkata-kata dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Sungguh, saya sangat ketakutan waktu itu dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, dalam kondisi yang kritis itu, tanpa saya tahu dari mana asalnya, mendadak muncul seekor burung camar, yang langsung menyambar kepala pria mabuk tadi hingga membuat telinganya berdarah. Lantaran kesakitan, dia melepaskan cengkeramannya dari tubuh saya dan berlari meninggalkan saya sendirian.

Saya jadi keheranan, bagaimana mungkin ada seekor burung camar di daerah pegunungan seperti Maastrich? Bukankah biasanya burung camar hanya dapat ditemui di daerah pantai atau laut? Sebuah kebetulankah? Atau….

Kadangkala, ketika kita sudah merencanakan segala sesuatu dengan sangat baik, dan lantaran sebuah keteledoran yang kita perbuat, akibat yang ditimbulkan jadi berakibat fatal, kita menjadi amat kecewa. Itulah yang terjadi pada saya saat masih bersekolah di Eropa beberapa tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya dipercaya oleh sebuah perusahaan biro perjalanan di Belanda memimpin sebuah grup turis ke Tenerife – Spanyol. Persiapan yang saya lakukan terhitung matang: mulai dari belajar dasar-dasar bahasa Spanyol selama berbulan-bulan hingga mengumpulkan berbagai informasi tentang daerah tujuan dari berbagai sumber termasuk mencari tahu tentang tata cara dan budaya masyarakat setempat.

Ketika proses check-in peserta tur di bandara Zaventhem – Belgia, semua peserta yang jumlahnya 44 orang berhasil memperoleh kartu boarding masing-masing dan bagasi mereka telah terangkut dengan baik di conveyor. Ketika tiba waktunya saya melakukan check-in untuk diri saya sendiri, saya baru menyadari bahwa saya kelupaan membawa paspor. Padahal, sebagai warganegara Indonesia yang berada di luar negeri, paspor ibarat nyawa, tidak boleh tertinggal –apalagi hilang. Setelah saya ingat-ingat, saya baru menyadari bahwa paspor saya tertinggal di laci meja belajar pada apartemen saya yang terletak di ….. Antwerp, kota yang berjarak 40 km dari Zaventhem airport.

Dengan bersimbah keringat, saya menelpon ke kantor menceritakan apa yang terjadi. Dapat dibayangkan bagaimana reaksi boss saya waktu itu, bahwa di menit-menit terakhir sebelum keberangkatan, saya sebagai professional tour leader perusahaan telah melakukan suatu kesalahan sepele tapi fatal, sehingga saya tidak bisa check-in sementara pesawat sudah siap untuk berangkat.

The show must go on. Ke-44 peserta tur itu tetap berangkat ke Tenerife tanpa saya. Saya bergegas kembali ke apartemen saya di Antwerp, berusaha menemukan paspor dan kembali lagi ke bandara untuk kemudian berangkat dengan penerbangan selanjutnya. Sepanjang perjalanan ke Antwerp, saya tidak habis pikir mengapa hal ini bisa terjadi. Insiden ini bisa sangat mempengaruhi kepercayaan perusahaan pada saya, dan saya yakin bakal menerima penalti seusai perjalanan ini.

Penerbangan berikutnya dijadwalkan 4 jam kemudian. Dan ketika saya akhirnya berhasil kembali lagi ke bandara Zaventhem dengan tanpa meninggalkan dokumen penting apapun, mendadak telepon genggam saya berbunyi. Ternyata, kantor saya yang menelpon. Dalam hati saya berkata, o la la, kira-kira apa lagi kesalahan saya kali ini?

Rekan kerja saya di kantor mengabarkan via telepon bahwa pesawat yang membawa grup saya ke Tenerife pada penerbangan sebelumnya telah meninggalkan 17 koper milik peserta tur saya di bandara Zaventhem yang dikarenakan oleh padatnya arus penerbangan waktu itu. Pihak bandara mengatakan bahwa ke-17 koper yang tertinggal itu bakal diangkut dengan penerbangan berikutnya, di mana saya adalah salah satu penumpangnya. Rekan saya tersebut meminta tolong agar saya memeriksa sendiri ke-17 koper tersebut sehingga tidak ada lagi yang tertinggal.

Well, that’s it! Dengan tertundanya keberangkatan saya, ternyata saya bisa ‘membantu’ staff di bandara untuk menghandel ke-17 koper yang tertinggal milik peserta tur saya. Dan ketika akhirnya saya tiba di Tenerife dengan membawa ke-17 koper tersebut, saya disambut dengan gembira oleh para peserta tur karena dianggap sebagai ‘penyelamat’ mereka.

Dengan tiga contoh yang tertulis di atas, apakah kamu berpikir semua kejadian itu hanya terjadi karena faktor kebetulan belaka? Beberapa diantara kamu mungkin berpendapat demikian, namun bagi saya, semua itu bukan kebetulan. When we stop saying that some extra-ordinary experiences that we have as coincidence, that is the time we might believe that guardian angel does exist. What do you think?*** (www.travelhemat.com)

Malu Berat Akibat Terlambat

By: Agung Basuki

Lantaran keasyikan menonton film di televisi sampai lepas tengah malam dan lupa memasang weker, keesokan harinya, saya terlambat bangun. Padahal, hari itu saya harus melakukan perjalanan dengan pesawat terbang jam 09.30 pagi menuju Nice untuk melakukan tugas dari perusahaan.

Perjalanan menuju bandara merupakan sebuah ketegangan tersendiri. Maklum saja, pada setiap hari Senin pagi, lalu lintas di kebanyakan kota di seluruh dunia selalu penuh sesak. Tak terkecuali di kota kecil tempat saya bertugas ini.

Jam 09.00 pagi, saya masih berada di atas taksi yang saya tumpangi dalam perjalanan menuju bandara. Di kejauhan, menara pengawas bandara terlihat samar-samar terhalang kabut. Berkali-kali saya minta pada supir taksi agar memacu kendaraannya lebih kencang lagi. Namun, di tengah-tengah antrean kendaraan yang panjangnya minta ampun, bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan.

‘Saya bukan Superman, Pak. Harusnya Bapak sewa helikopter saja biar nggak perlu antre kayak begini,’ begitu jawab si sopir taksi dengan nada kesal menanggapi kecerewetan saya.

Jam 09.20 pagi, taksi tiba di areal keberangkatan di bandara. Setelah memberikan sejumlah uang –entah berapa banyak—saya berlari sekuat tenaga menuju check-in counter. Jantung terasa berdetak sangat keras. Saya tidak pernah punya pengalaman ketinggalan pesawat sebelumnya dan tidak ingin kali ini menjadi pengalaman pertama saya. Telepon genggam saya berbunyi berkali-kali. Ternyata dari teman saya.

“Kamu di mana?!” tanya teman saya dengan nada keras begitu saya menjawab teleponnya.

“On my way,” teriak saya tak kalah kerasnya.

"Kamu tahu sekarang ini jam berapa?! Mereka sudah memanggil namamu berkali-kali ! Kalau kamu nggak nyampe dalam 5 menit, mereka pasti akan menutup pintu pesawat dan segera berangkat !"

‘Iya... Iya... Saya tahu. Saya akan tiba di sana tepat waktu. Tolong katakan ke awak pesawat saya segera datang,’ ujar saya berusaha meyakinkan teman saya yang juga ikutan panik tersebut.

Dengan tubuh bersimbah keringat, saya akhirnya tiba di check-in counter. Sengaja saya memasang wajah memelas ketika menyerahkan tiket ke petugas. Petugas wanita yang bertugas melihat ke arah saya dan memeriksa tiket yang sudah setengah kuyup itu dengan wajah tanpa ekspresi. Sejurus kemudian ia menoleh ke belakang, melihat ke arah jam dinding besar yang tergantung di sana.

‘Pak, jadwal keberangkatan pesawat adalah 09.30. Sekarang ini sudah jam 09.35,’ katanya, dingin.

‘Maafkan saya. Ceritanya panjang sekali dan ini bukan disengaja,’ saya berusaha menjelaskan dengan terbata-bata. ‘Saya tahu pesawat masih belum berangkat, jadi tolong saya. Saya harus ikut dalam penerbangan ini…’

‘Bapak tahu kan bahwa Bapak sudah harus tiba di bandara DUA jam sebelum jadwal keberangkatan yang ditentukan?’ petugas wanita itu mulai memberikan ‘ceramah’nya.
Saya ingin sekali memberikan berbagai penjelasan yang dramatis secara panjang lebar untuk meyakinkan mengapa saya sampai terlambat. Tapi yang akhirnya keluar dari mulut saya hanya…. ‘Saya minta maaf. Tolonglah saya… Saya harus berangkat dengan pesawat ini.’

Petugas itu segera menghubungi petugas berwenang lainnya via telepon. Saya tahu dia berusaha keras menjelaskan keadaan saya agar saya bisa ikut terbang bersama penerbangan saat ini. Dan beberapa saat kemudian, dia menyerahkan pass naik pesawat pada saya dan berkata: ‘Anda beruntung. Pesawat masih belum berangkat.’

Segera saya ambil boarding pass yang ada di tangan petugas tersebut dan berlari ke arah pintu keberangkatan di bandara yang tidak terlalu besar itu. Petugas yang berada di sana tahu kondisi saya yang sedang tergesa-gesa. Mereka cepat-cepat membantu agar saya bisa bisa segera tiba di pesawat. Saya berjalan setengah berlari sambil terus menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan beberapa orang petugas lain yang melihat ke arah saya dengan tatapan penuh tanya, yang seakan-akan berkata: Oh, ini toh orang yang membuat pesawat tertunda keberangkatannya.

Begitu tiba di dalam pesawat, seorang pramugari segera menyambut dengan wajahnya yang selalu berhias senyum. Dia segera membantu saya meletakkan tas yang saya bawa di kompartemen yang masih kosong. Kebetulan memang pesawat tidak sedang dalam keadaan penuh, sehingga saya bisa leluasa memilih tempat duduk di daerah yang kosong meski tidak sesuai dengan nomor kursi yang tertera di pass masuk.

Sambil menghela napas panjang, saya mencari-cari wajah teman saya diantara para penumpang pesawat. Kok nggak kelihatan ya, gumam saya dalam hati. Mungkin dia sedang di toilet, begitu pikir saya.

‘Pergi berlibur?’ tanya seorang bapak yang duduk di sebelah saya.

‘Oh tidak. Ada tugas dari kantor mengunjungi beberapa hotel dan restoran…’, jawab saya.
‘Sambil sekalian berjemur di tepi pantai.’

‘Berjemur di tepi pantai?!’ tanya Bapak itu heran. ‘Sejak kapan Strasbourg pindah ke tepi pantai?’

‘Lho, pesawat ini terbang ke Nice kan?!’ saya balik bertanya.

‘Nice?!’ Bapak tadi membelalakkan mata. ‘Bukan. Pesawat ini ke Strasbourg!’

‘No! Tidak mungkin!’ teriak saya keras-keras sambil terburu-buru keluar dari pesawat.

Saat saya tiba di pesawat yang satunya, saya segera disambut oleh seorang pramugari lainnya, yang walau tetap dengan wajahnya yang penuh senyum, sempat membisikkan: ‘Pesawat ini terlambat lebih dari 30 menit hanya untuk menunggu Bapak.’

Sepanjang jalan menuju tempat duduk, saya merasa setiap mata memandang ke arah saya dengan rasa jengkel bercampur kesal.

Sepintas saya melihat wajah teman saya yang ikutan memerah menahan malu, dan berusaha disembunyikannya di balik sebuah majalah. Cepat-cepat saya duduk di bangku sebelahnya yang memang telah dia sediakan untuk saya.

‘Ke Nice, kan?’ saya berusaha mencairkan suasana.

‘I don’t know you,’ jawab teman saya itu lirih, sambil berlagak tetap membaca majalah.

Ketika pintu pesawat sudah ditutup, dan awak pesawat sudah bersiap-siap untuk memperagakan prosedur keselamatan penerbangan, saya mendadak teringat bahwa tas yang tadi saya bawa, yang isinya berupa berbagai dokumen penting yang saya butuhkan dalam perjalanan ini, masih tertinggal di pesawat yang satunya.

‘Stop!!’ teriak saya keras, yang membuat para awak pesawat secara mendadak menghentikan jalannya ‘peragaan’ dan seluruh penumpang di pesawat memandang ke arah saya (lagi).

‘Tas saya tertinggal di pesawat ke Strasbourg. Pesawat itu masih belum berangkat. Saya harus mengambilnya…’, saya berusaha menjelaskan pentingnya arti dokumen-dokumen di dalam tas tersebut pada pramugari dan meminta izin untuk mengambilnya kembali.

Sebelum akhirnya pintu pesawat dibuka kembali dan saya turun untuk mengambil tas yang tertinggal di pesawat yang lain, saya sempat melihat teman saya menyembunyikan seluruh wajahnya di balik majalah di tengah-tengah riuh rendah cemoohan dari penumpang yang lainnya.

Dan akhirnya, gara-gara saya, pesawat yang saya tumpangi ke Nice, terlambat lebih dari 1 jam dari jadwal yang seharusnya. Alamak malunya.***(www.travelhemat.com)