By: Agung Basuki
Seorang bayi berusia 6 bulan ditemukan selamat diantara dedaunan sebuah pohon kelapa di tepi pantai di Banda Aceh pasca bencana tsunami yang menimpa hampir sebagian besar wilayah provinsi Nangroe Aceh Darussalam bulan Desember 2004 yang lalu. Begitu berita yang saya baca dari sebuah surat kabar. Banyak orang bilang, bayi itu dilindungi oleh ‘malaikat pelindung’nya. Hal itu terjadi karena menurut kepercayaan banyak orang, bayi adalah makhluk suci yang terlahir tanpa dosa. Dan konon, malaikat pelindung senantiasa menyertai seseorang sampai orang tersebut melakukan dosa pertamanya.
Namun, bagi sebagian orang lainnya, keberadaan malaikat pelindung hanyalah sebuah dongeng belaka yang berasal dari mitologi kuno yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Sebagai manusia yang hidup di zaman serba moderen, kebanyakan dari kita tidak percaya akan keberadaan malaikat pelindung. Tetapi buat saya, I do believe in the existence of Guardian Angel.
Saya pernah mengalami beberapa hal dalam kehidupan saya, di mana saya diselamatkan oleh ‘malaikat pelindung’. Saya ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika beberapa teman mengajak saya untuk ikut serta dalam perjalanan menuju Gunung Bromo mengendarai dua jeep four wheels drive. Serta merta saya setujui ajakan mereka, hingga tiba pada hari keberangkatan, secara mendadak saya terserang diare hebat. Akibatnya, saya harus mengurungkan rencana keikut-sertaan saya. Jujur, saya kecewa banget dan sepanjang hari saya jadi uring-uringan dan bertanya-tanya terus dalam hati, mengapa saya harus kena diare di waktu yang salah?
Jawaban atas pertanyaan saya itu tiba keesokan harinya saat salah satu orang tua teman yang ikutan dalam perjalanan ke Bromo mengabarkan telah terjadi kecelakaan menimpa rombongan teman-teman saya di daerah Penanjakan, yang letaknya tak jauh dari Bromo. Salah satu dari dua jeep yang ditumpangi mereka, jatuh ke dalam jurang berkedalaman lebih dari 300 meter. Tiga dari lima penumpang dalam jeep nahas itu terluka parah, sementara dua lainnya…. meninggal dunia.
Sungguh saya sangat terkejut mendengar berita itu. Bagaimana jika saya tidak terkena diare waktu itu? Kejadian macam apa yang bakal saya alami jika saya jadi ikutan dalam rombongan itu?
‘Keajaiban’ yang lain adalah ketika saya yang memang suka berpetualang seorang diri, sedang menunggu kedatangan kereta api di sebuah stasiun kecil dekat Maastrich – Belanda dalam perjalanan menuju Warsawa – Polandia. Waktu itu hari sudah hampir tengah malam dan kondisi stasiun sudah sangat sepi. Saya mendengar pengumuman bahwa kereta yang bakal saya tumpangi akan datang terlambat kira-kira 1 jam dari jadwal semula. Karena telepon genggam saya habis baterenya, maka saya bermaksud menggunakan sarana telepon umum yang terletak di luar stasiun untuk memberi kabar pada teman yang bakal menjemput saya di stasiun Warsawa untuk tidak usah bangun terlalu pagi, lantaran saya bakal datang terlambat.
Ketika saya baru saja mengakhiri pembicaraan dengan teman saya di telepon, saya merasakan ada yang meraba bahu saya dari belakang. Sesosok pria bertubuh tinggi besar yang tampaknya sedang mabuk berat berdiri di belakang saya sambil menggumamkan kata-kata yang tidak saya mengerti. Seketika saya sadar bahwa saya berada dalam bahaya. Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tangan pria mabuk itu, saya berusaha melarikan diri ke dalam stasiun.
Namun, pria mabuk tersebut tidak mau melepaskan saya begitu saja. Ia mengejar saya. Saya semakin panik ketika menyadari bahwa di dalam stasiun sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Teriakan saya meminta tolong tidak mendapat respon apapun. Jika saya harus berkelahi melawan si pemabuk, saya nggak yakin bakalan menang, karena ukuran tubuhnya nyaris dua kali ukuran tubuh saya.
Sebagai orang yang tengah mabuk, pria itu berlari cukup cepat. Tangannya yang panjang berhasil menarik tas ransel saya dari belakang sehingga langkah saya terhenti. Dia mencekal leher saya dan menghempaskan tubuh kurus saya pada sebuah tembok sambil terus berkata-kata dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Sungguh, saya sangat ketakutan waktu itu dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, dalam kondisi yang kritis itu, tanpa saya tahu dari mana asalnya, mendadak muncul seekor burung camar, yang langsung menyambar kepala pria mabuk tadi hingga membuat telinganya berdarah. Lantaran kesakitan, dia melepaskan cengkeramannya dari tubuh saya dan berlari meninggalkan saya sendirian.
Saya jadi keheranan, bagaimana mungkin ada seekor burung camar di daerah pegunungan seperti Maastrich? Bukankah biasanya burung camar hanya dapat ditemui di daerah pantai atau laut? Sebuah kebetulankah? Atau….
Kadangkala, ketika kita sudah merencanakan segala sesuatu dengan sangat baik, dan lantaran sebuah keteledoran yang kita perbuat, akibat yang ditimbulkan jadi berakibat fatal, kita menjadi amat kecewa. Itulah yang terjadi pada saya saat masih bersekolah di Eropa beberapa tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya dipercaya oleh sebuah perusahaan biro perjalanan di Belanda memimpin sebuah grup turis ke Tenerife – Spanyol. Persiapan yang saya lakukan terhitung matang: mulai dari belajar dasar-dasar bahasa Spanyol selama berbulan-bulan hingga mengumpulkan berbagai informasi tentang daerah tujuan dari berbagai sumber termasuk mencari tahu tentang tata cara dan budaya masyarakat setempat.
Ketika proses check-in peserta tur di bandara Zaventhem – Belgia, semua peserta yang jumlahnya 44 orang berhasil memperoleh kartu boarding masing-masing dan bagasi mereka telah terangkut dengan baik di conveyor. Ketika tiba waktunya saya melakukan check-in untuk diri saya sendiri, saya baru menyadari bahwa saya kelupaan membawa paspor. Padahal, sebagai warganegara Indonesia yang berada di luar negeri, paspor ibarat nyawa, tidak boleh tertinggal –apalagi hilang. Setelah saya ingat-ingat, saya baru menyadari bahwa paspor saya tertinggal di laci meja belajar pada apartemen saya yang terletak di ….. Antwerp, kota yang berjarak 40 km dari Zaventhem airport.
Dengan bersimbah keringat, saya menelpon ke kantor menceritakan apa yang terjadi. Dapat dibayangkan bagaimana reaksi boss saya waktu itu, bahwa di menit-menit terakhir sebelum keberangkatan, saya sebagai professional tour leader perusahaan telah melakukan suatu kesalahan sepele tapi fatal, sehingga saya tidak bisa check-in sementara pesawat sudah siap untuk berangkat.
The show must go on. Ke-44 peserta tur itu tetap berangkat ke Tenerife tanpa saya. Saya bergegas kembali ke apartemen saya di Antwerp, berusaha menemukan paspor dan kembali lagi ke bandara untuk kemudian berangkat dengan penerbangan selanjutnya. Sepanjang perjalanan ke Antwerp, saya tidak habis pikir mengapa hal ini bisa terjadi. Insiden ini bisa sangat mempengaruhi kepercayaan perusahaan pada saya, dan saya yakin bakal menerima penalti seusai perjalanan ini.
Penerbangan berikutnya dijadwalkan 4 jam kemudian. Dan ketika saya akhirnya berhasil kembali lagi ke bandara Zaventhem dengan tanpa meninggalkan dokumen penting apapun, mendadak telepon genggam saya berbunyi. Ternyata, kantor saya yang menelpon. Dalam hati saya berkata, o la la, kira-kira apa lagi kesalahan saya kali ini?
Rekan kerja saya di kantor mengabarkan via telepon bahwa pesawat yang membawa grup saya ke Tenerife pada penerbangan sebelumnya telah meninggalkan 17 koper milik peserta tur saya di bandara Zaventhem yang dikarenakan oleh padatnya arus penerbangan waktu itu. Pihak bandara mengatakan bahwa ke-17 koper yang tertinggal itu bakal diangkut dengan penerbangan berikutnya, di mana saya adalah salah satu penumpangnya. Rekan saya tersebut meminta tolong agar saya memeriksa sendiri ke-17 koper tersebut sehingga tidak ada lagi yang tertinggal.
Well, that’s it! Dengan tertundanya keberangkatan saya, ternyata saya bisa ‘membantu’ staff di bandara untuk menghandel ke-17 koper yang tertinggal milik peserta tur saya. Dan ketika akhirnya saya tiba di Tenerife dengan membawa ke-17 koper tersebut, saya disambut dengan gembira oleh para peserta tur karena dianggap sebagai ‘penyelamat’ mereka.
Dengan tiga contoh yang tertulis di atas, apakah kamu berpikir semua kejadian itu hanya terjadi karena faktor kebetulan belaka? Beberapa diantara kamu mungkin berpendapat demikian, namun bagi saya, semua itu bukan kebetulan. When we stop saying that some extra-ordinary experiences that we have as coincidence, that is the time we might believe that guardian angel does exist. What do you think?*** (www.travelhemat.com)
Jumat, 04 April 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar